Kajian pustaka merupakan salah satu bagian penting dalam penyusunan skripsi. Melalui bagian ini, mahasiswa menjelaskan teori, konsep, dan hasil penelitian terdahulu yang menjadi dasar dalam melakukan penelitian.
Namun, masih banyak mahasiswa yang mengalami kesulitan ketika menyusun kajian pustaka. Ada yang hanya mengumpulkan definisi dari berbagai buku dan jurnal, kemudian menyusunnya menjadi beberapa paragraf. Ada juga yang bingung menentukan teori apa saja yang perlu dimasukkan.
Padahal, kajian pustaka bukan sekadar kumpulan kutipan. Setiap teori dan referensi yang digunakan harus memiliki hubungan dengan topik serta tujuan penelitian.
Lalu, bagaimana cara membuat kajian pustaka skripsi yang baik dan benar?
Dalam artikel ini, kita akan membahas pengertian, struktur, langkah penyusunan, hingga contoh kajian pustaka sederhana yang bisa dijadikan panduan.
Apa Itu Kajian Pustaka?
Kajian pustaka adalah pembahasan mengenai teori, konsep, dan hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan topik penelitian.
Bagian ini digunakan untuk memberikan landasan ilmiah terhadap penelitian yang sedang dilakukan. Dengan adanya kajian pustaka, pembaca dapat memahami konsep yang digunakan, pendekatan yang pernah diterapkan, serta hubungan penelitian dengan penelitian sebelumnya.
Dalam skripsi, kajian pustaka umumnya menjadi bagian dari BAB II atau Tinjauan Pustaka. Namun, istilah dan susunan subbabnya dapat berbeda sesuai pedoman masing-masing perguruan tinggi.
Secara umum, kajian pustaka membantu peneliti untuk:
- Memahami teori yang berkaitan dengan topik penelitian.
- Menentukan konsep dan variabel yang digunakan.
- Mengetahui metode yang pernah diterapkan dalam penelitian sebelumnya.
- Membandingkan hasil penelitian terdahulu.
- Menjelaskan posisi dan kontribusi penelitian yang dilakukan.
Apa Perbedaan Kajian Pustaka dan Penelitian Terdahulu?
Kedua istilah ini sering dianggap sama, padahal memiliki fokus yang berbeda. Kajian pustaka membahas teori, konsep, definisi, dan pengetahuan ilmiah yang menjadi dasar penelitian.
Sementara itu, penelitian terdahulu membahas hasil penelitian yang sudah dilakukan oleh peneliti lain dan memiliki keterkaitan dengan topik yang sedang diteliti.
Contohnya, jika kamu melakukan penelitian tentang sistem informasi inventaris berbasis web:
- Kajian pustaka dapat membahas sistem informasi, inventaris, aplikasi berbasis web, basis data, dan metode pengembangan sistem.
- Penelitian terdahulu dapat membahas beberapa penelitian yang sebelumnya mengembangkan sistem informasi inventaris pada sekolah, kantor, atau instansi lainnya.
Keduanya saling melengkapi. Teori membantu menjelaskan dasar penelitian, sedangkan penelitian terdahulu membantu memahami perkembangan penelitian pada topik yang sama.
Apa Saja Isi Kajian Pustaka dalam Skripsi?
Isi kajian pustaka bergantung pada jenis penelitian dan pedoman kampus. Namun, untuk penelitian di bidang Sistem Informasi dan Informatika, beberapa bagian berikut sering digunakan.
1. Landasan Teori
Landasan teori berisi konsep dan teori yang berhubungan langsung dengan penelitian. Misalnya, jika judul penelitian adalah:
“Pengembangan Sistem Informasi Inventaris Barang Berbasis Web pada Sekolah X.”
Beberapa teori yang dapat dibahas antara lain:
- Sistem informasi.
- Inventaris barang.
- Aplikasi berbasis web.
- Basis data.
- Bahasa pemrograman atau teknologi yang digunakan.
- Metode pengembangan sistem.
- Metode pengujian aplikasi.
Tidak semua teori harus dimasukkan. Pilih teori yang memang diperlukan untuk menjelaskan penelitian.
2. Penelitian Terdahulu
Bagian ini membahas penelitian sebelumnya yang relevan dengan topik. Kamu dapat membandingkan beberapa aspek, seperti:
- Nama peneliti dan tahun publikasi.
- Tujuan penelitian.
- Metode yang digunakan.
- Objek penelitian.
- Hasil penelitian.
- Persamaan dan perbedaan dengan penelitian yang sedang dilakukan.
Penelitian terdahulu dapat disajikan dalam bentuk tabel, kemudian dilanjutkan dengan penjelasan atau sintesis.
3. Kerangka Berpikir atau Kerangka Konseptual
Kerangka berpikir menjelaskan hubungan antara masalah, teori, dan langkah penelitian. Bagian ini membantu pembaca memahami bagaimana penelitian dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Untuk penelitian pengembangan sistem, kerangka berpikir dapat menggambarkan kondisi pengelolaan inventaris saat ini, masalah yang ditemukan, kebutuhan sistem, proses pengembangan, hingga hasil yang diharapkan.
Bentuk kerangka berpikir dapat berupa uraian atau diagram, tergantung jenis penelitian dan ketentuan kampus.
4. Hipotesis Penelitian
Hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadap pertanyaan penelitian yang akan diuji menggunakan data. Bagian ini biasanya diperlukan pada penelitian tertentu, khususnya penelitian kuantitatif yang menguji hubungan atau pengaruh antarvariabel.
Namun, tidak semua skripsi harus memiliki hipotesis. Penelitian pengembangan aplikasi, misalnya, belum tentu memerlukan hipotesis formal. Karena itu, sesuaikan bagian ini dengan pendekatan penelitian dan pedoman kampus.
Cara Membuat Kajian Pustaka Skripsi
Setelah memahami isinya, berikut langkah-langkah yang dapat kamu lakukan untuk menyusun kajian pustaka.
1. Pahami Judul dan Fokus Penelitian
Sebelum mencari teori, pahami terlebih dahulu topik yang akan diteliti. Misalnya, kamu memiliki judul:
“Pengembangan Sistem Inventaris Barang Berbasis Web pada Sekolah A.”
Dari judul tersebut, kamu dapat mengidentifikasi beberapa konsep utama:
- Sistem informasi.
- Inventaris barang.
- Aplikasi berbasis web.
- Pengembangan sistem.
Konsep tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan kata kunci pencarian referensi. Jangan langsung mengumpulkan banyak jurnal tanpa mengetahui teori apa yang sebenarnya dibutuhkan.
2. Cari Referensi dari Sumber Terpercaya
Langkah berikutnya adalah mencari buku, jurnal ilmiah, prosiding, atau sumber akademik lainnya. Beberapa tempat yang dapat digunakan untuk mencari referensi antara lain:
- Google Scholar untuk menemukan artikel ilmiah dari berbagai penerbit.
- GARUDA untuk mencari publikasi ilmiah Indonesia.
- Repositori perguruan tinggi untuk melihat karya ilmiah akademik.
- Portal jurnal resmi untuk mengakses artikel dari penerbit atau institusi.
Gunakan kata kunci yang sesuai dengan topik penelitian. Contohnya:
- Pengertian sistem informasi.
- Sistem informasi inventaris berbasis web.
- Pengembangan aplikasi inventaris sekolah.
- Metode pengembangan sistem informasi.
- Pengujian black-box pada aplikasi web.
Pilih referensi berdasarkan relevansi, kredibilitas sumber, dan ketentuan tahun publikasi yang ditetapkan kampus.
Kamu juga dapat membaca artikel Cara Mencari Jurnal Ilmiah untuk Skripsi dan Tugas Akhir untuk mempelajari strategi pencarian referensi lebih lanjut.
3. Baca dan Catat Informasi Penting
Jangan hanya membaca judul atau abstrak jurnal. Jika sebuah referensi akan digunakan untuk mendukung pembahasan, pelajari bagian yang relevan secara lebih mendalam.
Catat beberapa informasi berikut:
- Nama penulis dan tahun publikasi.
- Konsep atau teori yang dibahas.
- Metode penelitian.
- Objek penelitian.
- Hasil atau temuan utama.
- Bagian yang relevan dengan penelitianmu.
Kamu bisa membuat catatan sederhana agar lebih mudah mengelompokkan referensi. Dengan cara ini, kamu tidak perlu membaca ulang seluruh dokumen setiap kali mulai menulis.
4. Kelompokkan Referensi Berdasarkan Topik
Setelah mendapatkan beberapa referensi, kelompokkan berdasarkan pembahasan.
Contohnya:
| Kelompok | Isi Pembahasan |
|---|---|
| Konsep sistem informasi | Pengertian, komponen, dan fungsi sistem informasi |
| Inventaris barang | Pengelolaan, pencatatan, dan pendataan barang |
| Aplikasi berbasis web | Konsep aplikasi web dan teknologi pendukung |
| Pengembangan sistem | Tahapan dan metode pengembangan aplikasi |
| Pengujian sistem | Teknik pengujian dan evaluasi aplikasi |
Pengelompokan ini akan membantu membuat susunan BAB II lebih teratur.
Kamu juga dapat menghindari pembahasan yang berulang karena setiap teori sudah memiliki bagian masing-masing.
5. Susun Pembahasan dengan Bahasa Sendiri
Setelah memahami referensi, susun pembahasan menggunakan bahasa sendiri tanpa mengubah makna sumber aslinya. Misalnya, kamu menemukan beberapa referensi yang menjelaskan tentang sistem informasi.
Daripada menyalin definisi satu per satu, pahami terlebih dahulu inti pembahasannya. Kemudian, tuliskan penjelasan yang sesuai dengan konteks penelitian. Jika menggunakan gagasan, data, atau definisi dari sumber lain, tetap cantumkan sitasi sesuai gaya penulisan yang diwajibkan kampus.
Menggunakan bahasa sendiri bukan berarti menghilangkan sumber referensi. Setiap gagasan yang berasal dari penulis lain tetap harus diberikan atribusi.
6. Hubungkan Teori dengan Penelitian
Teori yang sudah dijelaskan perlu memiliki hubungan dengan penelitian yang dilakukan. Contohnya, jika kamu menggunakan metode Waterfall, jelaskan konsep metode tersebut dan hubungkan dengan tahapan pengembangan sistem yang akan dilakukan.
Jika menggunakan pengujian black-box, jelaskan konsep pengujiannya dan bagian aplikasi yang akan diuji. Jangan memasukkan teori hanya karena sering muncul dalam skripsi lain. Pastikan setiap teori memiliki fungsi dalam mendukung penelitianmu.
7. Buat Sintesis Penelitian Terdahulu
Sintesis merupakan bagian penting yang sering terlewat. Setelah membahas beberapa penelitian terdahulu, jangan hanya menampilkan tabel dan menganggap pembahasan sudah selesai.
Jelaskan persamaan, perbedaan, serta hal yang dapat dipelajari dari penelitian tersebut.
Misalnya, beberapa penelitian sebelumnya sama-sama membahas sistem informasi inventaris berbasis web. Namun, objek penelitian, kebutuhan pengguna, fitur, atau metode pengujian yang digunakan mungkin berbeda.
Dari perbandingan tersebut, kamu dapat menjelaskan posisi penelitian yang sedang dilakukan. Jika ditemukan keterbatasan atau aspek yang belum dibahas oleh penelitian sebelumnya, hal tersebut dapat membantu mengidentifikasi research gap.
Pelajari juga artikel Research Gap dalam Skripsi dan Tesis: Pengertian, Contoh, dan Cara Menemukannya untuk memahami cara menemukan celah penelitian.
Contoh Kajian Pustaka Skripsi
Agar lebih mudah dipahami, berikut contoh sederhana kajian pustaka untuk penelitian dengan judul:
“Pengembangan Sistem Inventaris Barang Berbasis Web pada Sekolah A.”
Contoh ini merupakan ilustrasi penyusunan pembahasan, bukan kutipan dari jurnal atau buku tertentu. Untuk skripsi sebenarnya, setiap definisi dan klaim ilmiah harus didukung referensi yang benar-benar digunakan.
2.1 Sistem Informasi
Sistem informasi merupakan konsep yang berkaitan dengan pengelolaan data menjadi informasi yang dapat digunakan untuk mendukung kegiatan operasional maupun pengambilan keputusan.
Dalam penelitian ini, sistem informasi digunakan sebagai dasar pengembangan aplikasi yang membantu pengelolaan data inventaris barang di lingkungan sekolah.
Melalui sistem yang terkomputerisasi, proses pencatatan, pencarian, dan pembaruan data diharapkan dapat dilakukan secara lebih terstruktur.
2.2 Inventaris Barang
Inventaris barang merupakan kegiatan pencatatan dan pengelolaan barang yang dimiliki atau digunakan oleh suatu organisasi.
Pengelolaan inventaris dapat mencakup pendataan barang, kategori, jumlah, kondisi, lokasi penyimpanan, serta informasi lain yang diperlukan.
Dalam penelitian ini, pengelolaan inventaris menjadi fokus utama karena data barang perlu disimpan dan diperbarui secara teratur.
2.3 Aplikasi Berbasis Web
Aplikasi berbasis web merupakan perangkat lunak yang dapat diakses melalui peramban dengan memanfaatkan jaringan komputer atau internet, sesuai dengan arsitektur dan konfigurasi sistem yang digunakan.
Pada penelitian ini, aplikasi berbasis web dipilih sebagai platform pengembangan sistem informasi inventaris agar pengelolaan data dapat dilakukan melalui antarmuka yang terintegrasi.
2.4 Metode Pengembangan Sistem
Metode pengembangan sistem digunakan sebagai pedoman dalam proses pembangunan aplikasi. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah Waterfall, yang memiliki tahapan seperti analisis kebutuhan, desain sistem, implementasi, pengujian, dan pemeliharaan.
Dalam penelitian ini, tahapan tersebut digunakan untuk mengatur proses pengembangan sistem informasi inventaris berdasarkan kebutuhan yang telah diperoleh.
2.5 Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu dapat disajikan dalam tabel berikut.
| Peneliti | Fokus Penelitian | Metode | Hasil atau Temuan |
|---|---|---|---|
| Peneliti A | Sistem inventaris sekolah | Pengembangan sistem | Ringkasan hasil penelitian |
| Peneliti B | Pengelolaan aset berbasis web | Pengembangan sistem | Ringkasan hasil penelitian |
| Peneliti C | Sistem pencatatan barang | Pengembangan sistem | Ringkasan hasil penelitian |
Tabel di atas hanya contoh format. Nama peneliti, judul, metode, dan hasil harus diganti dengan informasi dari publikasi ilmiah yang benar-benar ditemukan dan dibaca.
Setelah tabel, tambahkan paragraf sintesis yang membahas persamaan dan perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian yang sedang dilakukan.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Membuat Kajian Pustaka
Agar kajian pustaka lebih berkualitas, hindari beberapa kesalahan berikut.
1. Terlalu Banyak Mengutip Tanpa Penjelasan
Mengumpulkan definisi dari banyak sumber tidak otomatis membuat kajian pustaka menjadi baik. Kamu perlu memahami dan menghubungkan teori dengan penelitian yang dilakukan.
2. Menggunakan Referensi yang Tidak Relevan
Jangan memasukkan jurnal hanya karena judulnya terlihat mirip.
Periksa isi, metode, dan pembahasannya. Pastikan sumber tersebut memang mendukung penelitian.
3. Hanya Mengandalkan Satu atau Dua Referensi
Landasan teori yang terlalu sedikit dapat membuat pembahasan kurang kuat.
Gunakan sumber yang memadai dan beragam sesuai kebutuhan penelitian. Namun, kualitas serta relevansi referensi tetap lebih penting daripada jumlahnya.
4. Tidak Menjelaskan Hubungan Antarpenelitian
Tabel penelitian terdahulu sebaiknya tidak berdiri sendiri.
Tambahkan pembahasan yang menjelaskan persamaan, perbedaan, dan posisi penelitianmu.
5. Tidak Konsisten dalam Sitasi
Pastikan semua kutipan memiliki sumber yang jelas dan format sitasi konsisten.
Gunakan aplikasi pengelola referensi seperti Mendeley atau Zotero jika diperlukan, tetapi tetap periksa kembali hasil sitasinya.
6. Memasukkan Teori yang Tidak Digunakan
Hindari memasukkan terlalu banyak teori yang tidak memiliki hubungan dengan tujuan atau proses penelitian.
Pilih teori yang benar-benar dibutuhkan agar BAB II tetap fokus.
Tips agar Kajian Pustaka Lebih Mudah Disusun
Berikut beberapa tips praktis yang dapat membantu:
- Buat kerangka BAB II sebelum mulai menulis.
- Tentukan kata kunci berdasarkan judul dan fokus penelitian.
- Simpan file jurnal dan catatan referensi dalam folder yang teratur.
- Catat sumber setiap kutipan sejak awal.
- Gunakan aplikasi pengelola referensi untuk membantu mengatur sitasi.
- Baca pedoman penulisan skripsi dari kampus.
- Konsultasikan susunan teori dengan dosen pembimbing.
Jika kamu sudah memiliki judul dan proposal penelitian, menyusun kajian pustaka akan lebih mudah karena arah pembahasannya sudah lebih jelas.
Kesimpulan
Cara membuat kajian pustaka skripsi yang baik dan benar dimulai dengan memahami fokus penelitian, mencari referensi yang relevan, mengelompokkan teori, menyusun pembahasan dengan bahasa sendiri, serta menghubungkan teori dengan penelitian yang dilakukan.
Kajian pustaka bukan sekadar kumpulan definisi atau kutipan dari berbagai jurnal. Setiap pembahasan harus memiliki tujuan dan mendukung penelitian.
Dengan penyusunan yang terarah, BAB II akan menjadi landasan yang lebih kuat untuk menjelaskan masalah, metode, dan arah penelitian.
Ingat, kajian pustaka yang baik bukan yang paling banyak mengutip, melainkan yang paling relevan dalam mendukung penelitian.